Header Ads Widget

Ticker

6/recent/ticker-posts

Warga RT 42 Bangirejo Melestarikan Tradisi Ruwahan


Masyarakat Jawa acapkali sering mendengar kata Ruwah, sebuah bulan urutan ketujuh dalam kalender Jawa yang datangnya bersamaan dengan bulan Sya'ban di tahun Hijriyah. Ruwah memiliki akar bahasa 'arwah', kemudian dalam mitologi Jawa dijadikan bulan untuk mengenang serta mengirim doa kepada leluhur.

Secara sosio-kultural, implementasi dari ritus nyadran tidak hanya sebatas membersihkan makam-makam leluhur, selamatan (kenduri), membuat kue apem, kolak, dan ketan sebagai unsur sesaji sekaligus landasan ritual doa. Nyadran juga menjadi ajang silaturahmi keluarga dan sekaligus menjadi transformasi sosial, budaya, dan keagamaan.

Prosesi ritual nyadran biasanya dimulai dengan membuat kue apem, ketan, dan kolak. Adonan tiga jenis makanan dimasukkan ke dalam takir, yaitu tempat makanan terbuat dari daun pisang, di kanan kiri ditusuki lidi (biting). Kue-kue tersebut selain dipakai munjung/ater-ater (dibagi-bagikan) kepada sanak saudara yang lebih tua, juga menjadi ubarampe (pelengkap) kenduri. Tetangga dekat juga mendapatkan bagian dari kue-kue tadi. Hal itu dilakukan sebagai ungkapan solidaritas dan ungkapan kesalehan sosial kepada sesama.

Untuk melestarikan tradisi ruwahan, warga RT 42 RW 12 Bangirejo melaksanakan pembuatan apem, ketan dan kolak pada sabtu malam (28/4/2018).

Para ibu-ibu bersama-sama mengolah bahan-bahan yang dipergunakan untuk pembuatan apem, ketan dan kolak, dibantu oleh bapak-bapak.  Suasana kebersamaan sangat terasa, kerjasama yang dilaksanakan penuh dengan keceriaan.

Suasana juga riuh karena anak-anak juga menemani ibu-ibu yang sedang memasak.  Kegiatan ini sudah berlangsung lama, dan terus dilestarikan oleh warga RT 42. #den blangkon


Post a Comment

4 Comments